Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2011

Menara Siger, dari Lampung


Menara Siger adalah menara yang juga menjadi titik nol Sumatra di selatan. Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dalam peresmian Menara Siger, 30 April 2008, menyatakan optimistis Menara Siger akan mendorong kemajuan Lampung. Peresmian ini ditandai dengan penekanan sirine, penandatanganan prasasti, serta penglepasan merpati bersama puluhan duta besar. Dengan iringan lagu Mars Lampung oleh Korps Musik (Korsik) Pemprov Lampung, Ny. Truly Sjachroedin menggunting rangkaian melati di pintu masuk bangunan menara enam lantai tersebut. Gubernur memasuki menara bersama duta besar Kroatia, Sri Lanka, Jepang, Palestina, Afghanistan, Singapura, Filipina, keluarga Sultan Banten dan Sultan Kanoman Cirebon. Peresmian ini juga diwarnai pembukaan stan seluruh kabupaten/kota.

Gubernur yakin Menara Siger akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15%. Angka itu berdasarkan perkiraan jumlah kendaraan 3.500 unit per hari dan 15 juta orang per tahun yang melintasi Pelabuhan Bakauheni. Dengan asumsi 15 persen saja singgah ke Menara Siger, maka setiap tahun akan menghasilkan pendapatan Rp12,5 miliar.

Pendirian Menara Siger mengawali pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) —penghubung Bakauheni—Merak. Menara Siger terbangun di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta wisata seluruh kabupaten/kota se-Lampung. Menurut Sjachroedin, Menara Siger bukan monumen masa lalu, tetapi bangunan masa depan yang akan jadi fenomena masyarakat Lampung.
Posisi strategis Pelabuhan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera diibaratkan sebagai mulut naga yang memuntahkan kurang lebih 80 ribu ton hasil-hasil pertanian per hari. Dengan penggunaan teknik ferrocement, Menara Siger dijamin mampu menahan terpaan angin kencang. Bangunan ini merupakan karya arsitek asli Lampung, Ir. Hi. Anshori Djausal M.T.
Teknik ferrocement merupakan pengembangan tim arsitek Menara Siger, dengan menggunakan jaring kawat menyerupai jaring laba-laba. Pengerjaan lambang siger dan beberapa ornamen tidak menggunakan cor-coran, namun bagian per bagian dengan tangan. Dengan metode ini, setiap inci bangunan tahan guncangan dan terpaan angin laut.

Menara Siger kebanggaan masyarakat Lampung tersebut berada di atas bukit dengan ketinggian 110 meter di atas permukaan laut. Pembangunan menara sejak tahun 2005 menghabiskan biaya Rp15 miliar. Menara Siger adalah simbol Lampung. Ia bukan hanya menjadi ikon pariwisata, tetapi dapat menjadi ikon dalam segala hal: keagamaan, seni dan budaya, pendidikan.
Anshori Djausal sebagai perancang mengungkapkan Menara Siger dapat memancing pengembangan kawasan pintu gerbang Pulau Sumatera. Pasca peresmian akan masuk investasi Rp100 miliar hingga Rp200 miliar. Dosen Fakultas Teknik Universitas Lampung ini menambahkan, dalam setahun sekitar 15 juta – 20 juta orang melintas di Pelabuhan Bakauheni. Hal tersebut merupakan sebuah potensi bagi promosi kepariwisataan dan potensi ekonomi.
Menata Siger adalah paduan antara land mark dan pariwisata. Bagi Anshori, Menara Siger ibarat gadis cantik yang akan memancing setiap orang untuk melamarnya. Maksudnya, Menara Siger akan menumbuhkan daya tarik dan magnet bagi setiap orang, termasuk daya tarik investasi.

Secara fisik, Menara Siger dibangun dengan memperhatikan ciri khas Lampung. Di sekitar tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan budaya Lampung serta sarana-prasarana pariwisata. Sebagai tugu di ujung Pulau Sumatera, Menara Siger dilengkapi dengan tulisan penanda Titik Nol Pulau Sumatera. Menara Siger dengan warna emas itu dilengkapi ruangan tempat wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.

Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung.
Bagunan akan berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA). Berikutnya panca gatra, yaitu berisi ideologi dan hankam. Dengan demikian para turis tidak perlu banyak bertanya.

Payung tiga warna (putih-kuning-merah) menandai puncak menara. Payung ini sebagai simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger Prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan. Menara Siger tidak hanya berbentuk sebuah fisik bagunan, tetapi mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat Lampung sesuai dengan filosofi berpikir dan bertindak sesuai visi dan misi mewujudkan Lampung yang unggul dan bardaya saing.

Menara Siger sebagai ikon kebanggaan masyarakat Lampung memang tidak bias di angap enteng, hal ini di sebabkan hingga saat ini Provinsi yang menjadi pintu gerbang Pulau Sumatra dan jawa ini baru memiliki ikon kebanggaan yang berskala nasional.

Sebagai masyarakat Lampung, tentu saja keberadaan menara Siger menjadi sangat layak dan mutlak di banggakan, menara Siger sangat berpotensi menjadi asset wisata kelas satu di wilayah lampung untuk menuju Visit Wilayah Lampung kedepan, kebudayaan lampung dan agar di kenal oleh tamu tamu dari manca Negara.

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

Spoiler for Pict

wisata Jembatan Langit Jepang


Amanohashidate, Jembatan Langit Jepang



Quote:
Quote:
Amanohashidate (天橋立) adalah lidah pasir yang memisahkan Teluk Miyazu dengan Laut Aso di Miyazu, Prefektur Kyoto, Jepang. Lidah pasir sempit ini panjangnya 3,6 km, lebarnya antara 20 m hingga 170 m, menghubungkan dua tempat terpisah di utara dan selatan Teluk MiyazuBila dilihat secara terbalik (kepala berada di bawah), lidah pasir ini tampak seperti jembatan (æ©‹ hashi) yang menuju ke langit (天 amano) sehingga diberi nama Amanohashidate.

Amanohashidate disebut-sebut sebagai salah satu dari tiga pemandangan terindah di Jepang. Di bagian timur terdapat pantai berpasir putih yang dapat digunakan untuk berenang. Di sepanjang lidah pasir ditumbuhi sekitar 8.000 batang pohon tusam. Tempat ini dikunjungi oleh sekitar 2,7 juta pengunjung setiap tahunnya.


Pemandangan Amanohashidate dapat dilihat dari Amanohashidate Viewland (sisi selatan) atau Taman Kasamatsu (sisi utara). Pemandangan Amanohashidate dari Taman Kasamatsu dapat terlihat seperti "jembatan ke langit", bila dilihat dari celah kedua belah kaki dan badan dibungkukkan.



Begini pemandangannya jika anda liat secara terbalik...



Lidah pasir ini terbentuk kira-kira 4.000 tahun yang lalu. Hanyutan pasir dan kerikil dari sungai-sungai di bagian timur Semenanjung Tango terbawa arus laut yang bertabrakan dengan arus Laut Aso yang berasal dari aliran Sungai Noda di di sebelah barat Amanohashidate. Sebagai akibatnya, lidah pasir berbentuk hampir lurus terbentuk di tengah-tengah laut yang memisahkan Teluk Miyazu dan Laut Aso.
Di ujung selatan lidah pasir ini, yang berjarak hanya beberapa langkah dari stasiun kereta, berdirilah Chionji yang merupakan kuil Budha yang sangat indah dengan tahoto kecil, sejenis pagoda yang lebih mirip dengan stupa di kuil India dibandingkan dengan pagoda Jepang.
Spoiler for Chion-ji Temple

Spoiler for Chion-Ji Temple 2

Spoiler for Chion-Ji Temple 3

Orang-orang sudah melakukan ini (melihat secara terbalik) sejak ratusan tahun yang lalu, mulai dari penduduk asli sampe para turis yang merasa penasaran.
Spoiler for Amanohashidate jika nampak terbalik

apakah anda bisa lihat jembatan yang menghubungkan bumi dengan langit dari foto diatas? 


Berikut saya tambahkan Gambar-gambar Amanohashidate yang sangat indah.... 

Spoiler for Amanohashidate Garden

Spoiler for Amanohashidate

Spoiler for Amanohashidate 2

Spoiler for Amanohashidate 3

Spoiler for Amanohashidate 4

Spoiler for Amanohashidate 5

Spoiler for Amanohashidate 6

Spoiler for Amanohashidate Jinja


Ternyata ada tambahan dari kaskuser yang perhatian gan 

Quote:
Originally Posted by ShinyMew View Post
Emang kurang maksimal klo liat di layar komputer/ ponsel/ tab / ipad anda. Karena emang lebih keren klo pemandangan ini dilihat secara langsung! Bener2 keren bgt. Klo mau kesini pas bulan desember pas lagi ada perayaan mochi. Karena jembatan ini suka dihub2kan dengan turunnya anak bulan ke bumi. 
Thanks ya gan, udah mau menambahkan 

dan ada juga cerita yang bikin ngakak 
simak dialog berikut ini .....
ternyata dibalik semua ini ada pertemuan yang tak disangka sangka  cekidot post-an ini...


Spoiler for komen


Quote:
Quote:

Sabtu, 19 Februari 2011

kubur batu kas masyarakat sumbawa




Kuburan batu besar yang identik dengan jaman megalitikum, bisa di dengan mudah ditemui di Pulau Sumba. Karena tradisi batu besar jaman purba terus dijaga oleh masyarakat pulau ini. Hampir setiap rumah minimal memiliki sebuah kuburan batu. Kuburan itu biasanya dibangun di depan rumah mereka. Masyarakat Sumba percaya, rumah ketika masih hidup haruslah berdampingan dengan rumah ketika mereka meninggal, dalam hal ini kuburan. Dan juga, ini adalah sebagai simbol kedekatan antara arwah dan keluarga yang masih hidup.

Sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah meninggal, keluarga akan membuatkan batu kubur yang besar dan indah. Batu - batu itu diambil dari gunung, kemudian dipahat sesuai dengan bentuk dasar yang diingankan, setelah itu ornamen - ornamen akan diukir di setiap sisi batu yang telah terbentuk menjadi sebuah dolmen atau sarkofagus. Semakin indah dan besar sebuah batu kubur, maka hal itu menyimbolkan juga semakin besar status dan martabat dari yang meninggal.


Batu - batu kubur di Sumba dibagi menjadi enam jenis, yaitu:

Sabtu, 15 Januari 2011

cewek sma berantem pict


Senin, 03 Januari 2011

kumpulan tatoo menarik dengan model tanpa busana







Kamis, 23 Desember 2010

galery gadis cantik lagi mandi bareng-bareng

MariEri